Indonesia dikenal memiliki beragam karya seni budaya. Salah satunya dari Jawa  yaitu kesenian wayang. Wayang merupakan manifestasi cipta, rasa dan karsa “manusia Jawa” dalam segala aspek kehidupan, bermasyarakat dan bernegara. Nilai-nilai kesenian, keindahan, filsafat pola tingkah laku, persepsi keagamaan, dambaan, cita-cita dan lain-lain, semuanya terkandung dan terlihat dalam dunia wayang. Kisah wayang adalah kisah yang bisa membuat kita bercermin. Dinamika dan dialektika wayang, merupakan perlambang kehidupan manusia di dunia ini. Karakter yang diperankan dalam wayang bisa terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari. Ada tokoh baik, ada tokoh jahat, ada yang menggambarkan kejujuran, keadilan, kesucian, ada pula yang menggambarkan tentang angkara murka, keserakahan, ketidakjujuran, dan lain sebagainya. Wayang memberi petunjuk bagaimana kita harus hidup dalam menunaikan tugas hidup kita di dunia. Oleh karena itu, membaca dan menonton wayang akan berarti sebagai proses beridentifikasi dengan tokoh-tokoh tertentu dan bercermin serta berteladan padanya dalam melakukan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari (Sayuti dalam Nurhadi, 2013). Melalui wayang, kita bisa memetik beragam nilai di luar nilai yang sekadar bersifat hiburan. Wayang adalah sebuah mahakarya. Selain sebagai cerminan kehidupan manusia di dunia, di dalam wayang juga terkandung berbagai nilai, mulai dari falsafah hidup, etika, spiritualitas, musik (gending-gending gamelan), hingga estetika bentuk seni rupa yang amat kompleks (Nurgiyantoro, 2011:21). Segala bentuk nilai estetis dan filosofis dalam wayang, membuat wayang ditetapkan sebagai World Masterpiece of the Oral And Intangible Heritage Of Humanity oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003. Yaitu penghargaan wayang sebagai mahakarya adiluhung warisan dunia.

Meskipun telah dinobatkan UNESCO sebagai karya agung dunia, namun tidak menjadikan wayang sebagai raja di negerinya sendiri. Seiring perkembangan dinamika zaman dan perubahan struktur globalisasi menyebabkan turunnya perhatian dan minat pada seni pewayangan. Khususnya oleh generasi muda atau remaja. Minat remaja Indonesia untuk mempelajari wayang dapat dikatakan rendah. Hal ini dikarenakan sosialisasi budaya yang kurang memadai. Berbeda dengan budaya modern yang berkiblat pada budaya barat, begitu mudah menarik minat generasi muda Indonesia, karena mudahnya ditemukan sosialisasi budaya ini diberbagai media.

Maka dari itu diperlukan semacam revitalisasi kesenian wayang untuk melestarikan budaya kesenian ini di tengah-tengah perkembangan global saat ini. Seperti yang disarankan Kirun (dalam Nurhadi, 2013), bahwa untuk menangkal dampak buruk dari arus globalisasi, harus memperkuat bangunan kebangsaan dan kenegaraan Indonesia dengan mengangkat kearifan lokal seperti budaya spiritual, warisan pusaka alam, dan pusaka budaya di berbagai bidang, tidak terkecuali kesenian wayang. Sebagai bentuk respon terhadap pentingnya revitalisasi kebudayaan wayang, maka penulis merancang sebuah media yang mampu mengangkat kearifan lokal dan dapat mengedukasi generasi muda untuk mau mengenal, memepelajari dan melestarikan kesenian wayang. Yaitu rancangan ilustrasi buku pewayangan yang mengangkat cerita Wahyu Cakraningrat. Wahyu Cakraningrat menceritakan perjuangan tiga pemuda berlainan sifat dan karakter dalam menggapai cita-citanya. Mencerminkan kehidupan manusia pada usia muda yang harus memiliki budi pekerti baik dan kerja keras pantang menyerah untuk mampu menggapai cita-citanya di masa yang akan datang. Buku ilustrasi dipercaya bisa menjadi media yang cukup efektif dalam menumbuhkan minat baca remaja. Melalui ilustrasi buku pembaca diajak untuk berimajinasi sehingga seakan-akan menjadi bagian dari cerita. Maka pesan dan amanat dari cerita Wahyu Cakranngrat dapat diserap pembaca dengan mudah.

Leave a Reply