Seminar Internasional Seni dan Budaya (ICONARC 2017) dan BBS 2017

Seminar Internasional Seni dan Budaya (ICONARC 2017) dan BBS 2017

Bulan Bahasa dan Seni (BBS) 2017 pada hari ini resmi dibuka oleh Rektor Unnes Prof Dr Fatkhur rahman pada pukul 09:00 bertempat di hotel Grasia bersamaan dengan dibukanya Seminar Internasional Seni dan Budaya (ICONARC 2017). Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini BBS diawali dengan Seminar Internasional yang menghadirkan 4 pembicara asing yaitu Prof. Dr. Cua Soopong (China), Prof. Halim (Malaysia), Prof Ahamad (Malaysia), Prof. Mouro Gaia (Italia), dan dari Indonesia Prof Tjetjep Rohendi Rohidi.

Rektor Unnes memberikan sambutan sekaligus membuka BBS 2017

Seminar Internasional Seni dan Budaya diselenggarakan oleh Jurusan Senirupa dan Jurusan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni bekerjasama  Program Pasca Sarjana Unnes, mengangkat tema “Peranan Seni dalam Membangun Toleransi Budaya Kebangsaan”. Terdapat beberapa hal yang melatarbelakangi pengambilan tema tersebut, diantaranya adalah isu-isu kekinian yang terjadi di sekitar masyarakat yang dapat direspon melalui bidang seni dan budaya. Melalui situs iconarc.org dapat dikutip latarbelakang secara lengkap penyelenggarakan ICONARC sebagai berikut :

Dewasa ini, isu dan kasus-kasus intoleransi, pemaksaan kehendak, demo-demo terkait dengan persoalan kebudayaan terutama sebagai dampak politik pilkada sudah sedemikian meresahkan dan dikhwatirkan dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Persatuan dan kesatuan perlu dijaga mengingat secara realitas Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang terdiri kemajemukan kondisi struktur masyarakat seperti keanekaragaman suku bangsa, adat istiadat, kebudayaan, bahasa daerah, agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Keberagaman tersebut senantiasa harus dapat hidup secara harmonis demi Indonesia yang kuat. Melalui sikap saling menghargai dalam sebuah ruang lingkup yang penuh dalam kemajemukan maka sebuah bangsa dapat hidup secara merdeka. Sikap toleransi tersebut perlu ditopang sebuah cara pandang sebuah bangsa dalam mengenali dan memahami lingkungannya dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan wilayahnya dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Konsep cara pandang yang diperlukan adalah wawasan kebangsaan. Konsep kebangsaan yang bersumber dari perjuangan bangsa Indonesia mewujudkan kemerdekaanitulah yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini. Konsep kebangsaan bertujuan membangun tujuan nasional yang mencakup kesatuan politik, kesatuan sosial budaya, kesatuan ekonomi, kesatuan pertahanan keamanan. Wawasan kebangsaan Indonesia menolak segala diskriminasi suku, ras, asal-usul, keturunan, warna kulit, kedaerahan, golongan, agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kedudukan maupun status sosial.

Penguatan nilai-nilai wawasan kebangsaan saat ini menjadi sangat urgent untuk terus dikuatkan karena permasalahan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari tidak mungkin bisa dilepaskan dari dinamika perkembangan dunia baik teknologi, budaya, ekonomi yang terus berkembang secara pesat. Wawasan kebangsaan diharapkan mampusecara proaktif mengantisipasi efek negatif perkembangan duniatersebut. Saat ini ketikapengaruh globalisasiyang sangat kuat maka eksistensi nilai-nilai lokal semakin menjadi tereduksi. Dinamika perkembangan teknologiyang tidak digunakan secara selektif tentunya akan dapat merentankan budayasehingga akan mudah dibongkar dan didestruksi yang dapat mengakibatkan orientasi budaya skizofrenia. Dampak budaya skizofrenia adalah adanya perombakan kode-kode sosial dan budaya lokal tanpa tentu arah dan terus bergerak tanpa kejelasan yang pasti. Pada poin tersebutlah sebuah identitas kebudayaan akan dengan mudah tergerus dan kejatidirian meluntursehingga dapat memecah belah atau disintegrasi bangsa. Oleh karena itu, nilai-nilai tradisi perlu dijaga dan digali untuk memperkaya wawasan penciptaan dan apresiasi terhadapnya dalam perspektif kebaruan sehingga eksistensinya terus berlanjut dalam dinamika yang baru dan tidak mudah ditelan oleh globalisasi.

Pemujaan demokrasi yang selalu muncul seringkali tanpa mempertimbangkan aspek penghargaan atas kebenaran kaum lainnya telah melunturkan nilai-nilai toleransi. Kemerdekaan individu seringkali diekspresikan lewat kecanggihan teknologi media sosial ke bentuk yang sangat ekstrim sehingga ada kecendernungan merusak tatanan nilai-nilai toleransi yang ada. Sikap-sikap saling merasa paling benar, menganggap nilai lain yang salah dan lain sebagainnya, telah begitu menggejala dalam kehidupan keseharian.Transisi siklus pertumbuhan ekonomi yang kurang merata untuk tujuan kehidupan kemanusian yang berkelanjutan juga seringkali menjadi alasan untuk meluapkan ke hal-hal yang bersifat anarkis dan radikalisme. Radikalisme inilahyang dapat mendorong seseorang untuk bertindak menuju titik ekstrim sampai pada titik semuanya akan kehilangan kesadaran kebangsaaan untuk saling menghargai. Berdasakan pertimbangan tersebutlah tampaknya diperlukan pencarian bentuk-bentuk dan model-modelsolutif agar dapat terjadi kohesi, inklusi,dan terjadi peningkatan demokratis yang semakin baik tanpa menghilangkan rasa toleransi. Sikap kebudayaan tanpa toleransi tentunya akan membongkar nilai-nilai tatanan budaya Bangsa Indonesia yang hakikatnya adalah bersifat pluralistik.Bangsa Indonesia pun akhirnya telah meletakkan empat pilarkebangsaan yaitu Pancasila,UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesiasebagai penopang terinternalisasinya nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari demi terbentuknya karakter bangsa.

Dalam menghadapi kondisi kontekstual Bangsa Indonesia tersebutlah, seni diharapkan dapat berperan dan berkontribusi secara aktif sebagai solusi timbulnya masalah nilai-nilai toleransi budaya kebangsaan yang semakin memudar. Seni dalam konteks pendidikan merupakan sebuah media atau wahana dalam menanamkan nilai-nilai toleransi kebudayaan. Lewat kegiatan ekpresi dan apresiasi tentunya nilai-nilai tersebut semakin mudah tertularkan.Begitu pula, seniman sebagai kreator diharapkan dapat menghadirkan seni kebaruan sehingga dapat melahirkan nilai-nilai peradaban yang unggul dalam menguatkan nilai-nilai toleransi kebudayaan. Proses kreativitas tersebut tentunya tidak terlepaskan dari dunia teknologi. Teknologi seakan memberikan wadah dan media sekaligus tantangan dalam berkarya.Pada aspek lainnya, kreativitas seni agar dapat tumbuh pada jalur kebangsaan tampaknya juga tidak akan melepaskan nilai-nilai inspirasi dari agama maupun budaya dengan orientasi kepada industri kreatif agar dapat memerdekan manusia secara ekonomi. Lewat proses-proses tersebutlah, seni harus mampu memberikan kontribusi nyata sebagai media aktualisasi penguatankebangsaan.

Berdasarkan hal-hal tersebutlah, maka perlunya pembacaan masa depan yang lebih prospektif agar nilai nilai kebangsaan dapat terus terawat melalui penguatan peranan seni baik seni rupa, drama, tari, musik dan desain.Seni akan dapat berkontribusi secara nyata demi eksistensi manusia dan peradaban Bangsa Indonesia secara terus-menerus jika selalu terus dikreatifkan dengan inspirasi nilai-nilai budaya lokal dengan tetap memperhatikan perkembangan jaman.Seni dan desain punya tanggung jawab untuk mampu menjadi perekat sebuah persatuan dan kesatuan bangsa. Seni dan desain jelas memiliki potensi yang luar biasaapabila dapat dioptimalkan kontribusinya melalui manajemen yangefektif karena dalam seni selalu terepresentasikan bentuk–bentuk kreatif yang dapat mengubah kemajuan peradaban.

Peserta ICONARC 2017

Seminar Internasional Seni dan Budaya 2017 ini menandai dibukanya Bulan Bahasa dan Seni 2017 yang puncaknya akan diselenggarakan pada tanggal 28 Oktober 2017.

Leave a Reply