Mengungkap Budaya WIP

Mengungkap Budaya WIP

Oleh : Leo Avero (Januari 2015)
diarsipkan dari situs senirupa-unnes.com setelah mengalami proses “reset”

Alkisah seorang calon seniman bernama A tiba-tiba saja mendapatkan ilham berupa ide untuk dituangkan menjadi karya terbaru nya, sebagai seorang calon seniman A pun lalu mengolah ide tersebut, merancang konsep nya sedemikian rupa, mengkalkulasi segala kemungkinan, dan tak lupa melakukan penelitian mengenai hal-hal yang relevan dengan tema yang akan ia usung dalam calon karya terbaru nya.

Sebagai seorang calon seniman, kemudian A berjibaku dengan karya nya, meleburkan rasa dan cerita menjadi satu kesatuan karya yang ‘rencananya’ akan menjadi karya yang luar biasa dan spektakuler, menggetarkan hati, menggerakkan yang tidak bergerak dan memberi kesan mendalam. namun, layaknya semua usaha di dunia ini, Proses berkarya A juga mempunyai godaan tersendiri ditengah proses nya yang sedang berjalan, salah satunya adalah rasa tidak sabar untuk mengunggah karya ke media sosial, mendapat pengakuan, atensi dan apresiasi yang tentunya dapat membuat A tersipu malu. masalah lain adalah, keinginan tersebut terbentur oleh kenyataan bahwa karya A baru diselesaikan setengahnya.

Namun jangan khawatir, sebagai seorang calon seniman yang pandai bersiasat, A selalu mempunyai solusi untuk segala hal yang rumit di sekelilingnya. Setelah menimbang-nimbang, lalu A segera mengunggah karya nya ke media sosial yang juga banyak digunakan oleh teman-teman nya. Mempromosikan nya di grup-grup seni dan meninggalkan nya begitu saja bagaikan seorang tersangka tabrak lari. Lalu dengan embel-embel #WorkInProgress, karya setengah matang itu pun kemudian mengudara di media sosial, bersiap untuk menjaring “like” dan komentar dari orang-orang yang sedang berseluncur di linimasa, atau bahkan beberapa komentar berupa link bagi-bagi pulsa gratis.

Like demi like pun dijaringnya, komentar demi komentar pun diterima, Pujian demi pujian pun membuai A. namun pada kenyataanya, A tidak pernah menyelesaikan karya yang katanya sedang dalam proses itu, karya itu pun ditinggalkan begitu saja dan tidak pernah dilanjutkan. ditinggalkan bagaikan pemuda lugu yang ditipu oleh pemuda licik dari kota.

Melihat kisah A, saya lalu bertanya kepada diri saya sendiri, apakah yang saya cari dalam berkarya dan mengunggah nya ke media sosial? To express, or to impress seperti yang dibahas dalam tulisan ini? Apakah yang sebenarnya saya inginkan? Penghargaan yang hakiki terhadap karya saya, atau Jempol dan komentar yang jumlah nya mengalahkan Postingan “Ketik 2 dan lihat apa yang terjadi” ?

Tak hanya Narcissus sang pemuda tampan dari legenda Yunani, setiap manusia termasuk saya sebetulnya memang mempunyai sisi narsisistik serta ingin di puji, ingin mengetahui apa yang dipikirkan orang lain mengenai dirinya dan apa yang ia lakukan, sebuah godaan. Lalu budaya WIP diikuti mudahnya mendapat umpan balik dari media sosial datang dan telah membentuk kontur yang memperjelas hal tersebut. tidak salah, namun budaya ini kemudian membuat seniman malas menyelesaikan karya nya yang mana merupakan hal yang destruktif, terlebih lagi seniman yang sejak awal berkarya demi di puji. Lha wong setengah jadi saja sudah dipuji, jadi untuk apa di selesaikan? Buang-buang waktu.

Sejatinya #WorkInProgress ada untuk berbagi, berbagi tentang apa saja yang terjadi dalam sebuah proses yang tersembunyi. #WorkInProgress ada untuk menyingkap tabir tersebut. Because sharing is caring, berbagi adalah perduli. setelah ini saya akan membuka folder-folder lama di hard disk laptop saya yang berisi file-file berserakan karena management nya buruk sekali, karena saya sendiri mempunyai lusinan WIP yang tak pernah saya selesaikan hingga detik ini. karena jujur saja, saya masih berkarya demi sebuah pujian. Bagaimana dengan anda?

Sumber Gambar : wikipedia

Imaji adalah sebuah kerja akal dalam mengembangkan suatu pemikiran yang lebih luas dari apa yang pernah dilihat, dengar, dirasakan yang pada akhirnya dapat menghasilkan sesuatu yang bersifat produktif dan kreatif

Leave a Reply